Nyaris Renggut Nyawa, Jembatan Sei Bandar Jadi Sorotan: Kades dan Polisi Turun Tangan
Rokan Hulu – Inforiau1.com –
Ada bau maut yang menguap dari celah-celah papan lapuk Jembatan Sei Bandar. Setiap derit kayu yang patah bukan sekadar suara kerusakan, melainkan lonceng peringatan akan bencana yang nyaris merenggut nyawa. Di atas jembatan yang menjadi nadi kehidupan warga ini, masyarakat dipaksa “berjudi” dengan takdir hanya untuk sekadar melintas.
Melihat bahaya yang kian nyata, Kepala Desa Rokan Koto Ruang, Alexusanto, S.IP, M.Ling, menolak berpangku tangan. Ia tak menunggu anggaran turun dari langit atau memo birokrasi yang berbelit.
Dengan kesadaran bahwa nyawa warganya tak bisa menunggu, ia langsung merogoh sumber daya yang ada untuk menyediakan material kayu darurat.
“Ini bukan sekadar kayu dan paku. Ini soal napas masyarakat. Jika kita diam, kita hanya sedang menunggu kapan berita duka akan sampai ke telinga kita. Kami bergerak karena nyawa warga adalah taruhan yang terlalu mahal,” tegas Alexusanto dengan tatapan tajam di tengah debu perbaikan.
Sinergi di Atas Kerapuhan
Pemandangan mengharukan sekaligus miris terlihat saat aparat kepolisian dari Polsek Rokan IV Koto yang dipimpin langsung Iptu Dodi Ripo Saputra, bersama Bhabinkamtibmas dan warga, berjibaku di bawah terik matahari.
Bukan dengan mesin-mesin canggih, melainkan dengan otot, keringat, dan peralatan seadanya, mereka menambal lubang-lubang “maut” tersebut. Kaus seragam polisi yang basah oleh keringat menjadi saksi bahwa keselamatan warga adalah hukum tertinggi.
Kapolsek Rokan IV Koto, Iptu Dodi Ripo Saputra, menegaskan bahwa mereka tidak mungkin menutup mata sementara maut mengintai di depan pelupuk mata.
“Kami tidak bisa membiarkan warga bertaruh nyawa setiap hari. Keselamatan rakyat tidak bisa dinegosiasikan. Ini sinergi nyata, kami turun bukan hanya untuk menjaga keamanan, tapi memastikan tidak ada tangis keluarga yang pecah karena jembatan ini roboh,” ujar Iptu Dodi dengan nada bicara yang tegas.
Tamparan Bagi yang Abaikan
Meski kini jembatan kembali bisa dilalui, rasa syukur warga dibalut oleh getir yang mendalam. Perbaikan ini hanyalah “napas buatan” untuk masalah yang kronis. Iptu Dodi secara blak-blakan menyentil pihak-pihak terkait yang memiliki otoritas lebih besar.
“Kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Perbaikan hari ini adalah solusi sementara di tengah kegentingan. Kami menuntut perhatian serius dari pihak berwenang. Jangan biarkan warga berjuang sendirian selamanya,” tambahnya.
Harapan warga pun terdengar seperti jeritan sunyi. Seorang warga yang melintas menatap nanar ke arah sungai di bawah jembatan, **“Jangan tunggu sampai ada nyawa yang melayang, jangan tunggu sampai ada peti jenazah lewat sini, baru pemerintah (pusat/daerah) bertindak,ucapnya dengan suara bergetar.
Sebuah Tanda Tanya Besar
Jembatan Sei Bandar kini memang sudah tersambung kembali berkat tangan dingin Kades dan ketegasan Polsek Rokan IV Koto. Namun, sebuah pertanyaan besar tetap menggantung di atas aliran sungai.
Sampai kapan masyarakat harus terus berjibaku dengan solusi darurat? Apakah keselamatan warga Rokan Hulu harus selalu menunggu aksi heroik di lapangan, sementara pengambil kebijakan tetap tenang di kursi empuk mereka?( Supriadi )






